BINJAI, DLHBinjaiNews (17/12/2019) Setelah sebelumnya ditemukan bangkai babi disungai bingai, ternyata bangkai babi juga dibuang di kawasan Tempat Pemroresan Akhir (TPA) yang dikelola Dinas Lingkungan Kota Binjai. Lebih kurang 8 ekor babi yang sebagian besar dalam kondisi mati dan hidup ditemukan petugas TPA Kota Binjai saat tengah melakukan pengawasan lapangan kawasan TPA.

Diduga kuat dilakukan oleh oknum pengusaha ternak babi yang berada di sekitar wilayah tetangga Kota Binjai akibat dari dampak virus Demam Babi atau Kolera Babi (Classical Swine Fever).

Terlihat jelas, petugas dari DLH Kota Binjai, mulai mencari dan menguburkan bangkai babi yang secara sengaja dibuang ke lokasi tersebut, pada Minggu 15 Desember sekira pukul 15:00 WIB kemarin dan dibantu oleh pegawai dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtan).

Tidak hanya sampai di situ saja, tim gabungan dari dua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tersebut, terus mencari bangkai babi yang lainnya, sembari mencoba menghalau masuknya binatang bervirus itu, ke wilayah Kota Binjai, hingga tengah malam dan berhenti dikarenakan hujan melanda lokasi TPA sampah.

Hal ini, seperti yang disampaikan oleh Kepala Dinas (Kadis) DLH Kota Binjai, Dr. T. Amri Fadli M.Kes, yang mengatakan pihaknya tengah berusaha menangani persoalan tersebut.

“Benar ,saat ini anggota kita bersama dengan petugas dari Disketapangtan berusaha untuk mencari dan mengevakuasi bangkai babi yang dibuang di sekitaran lokasi TPA kita, dan baru saja berhenti karena hujan deras di lokasi itu,” kata Kadis DLH Kota Binjai.

Bangkai Babi dibuang di kawasan TPA Binjai

Dr. T. Amri juga mengungkapkan rasa kekhawatirannya dengan persoalan pembuangan babi, baik yang masih hidup maupun yang sudah menjadi bangkai oleh oknum yang tidak bertanggung jawab ke wilayah Kota Binjai.

“Kita sangat khawatir dengan kejadian seperti ini, dan hal ini tentu saja akan meresahkan masyarakat kita, untuk itu kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menangani masalah ini, dan kepada para pelaku pembuangan binatang terinfeksi virus tersebut, agar tidak melakukan hal itu lagi, karena dapat mencemari lingkungan hidup dan tentu saja itu ada pidananya,” ungkap Dr. T. Amri Fadli M.kes, (RFS-RAM)