Perilaku memilah sampah di Indonesia ternyata masih buruk. Masyarakat masih sulit membiasakan diri membuang sampah sesuai jenis. Padahal, memilah sampah penting agar sampah dapat kembali dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai guna. Indonesia tampaknya masih berkutat di fase “buanglah sampah pada tempatnya”, belum naik level ke fase pemilahan dan mendaur ulang sampah. Walau begitu, problem ini sebenarnya terjadi secara global: populasi bumi memproduksi sekitar 300 juta ton plastik tiap tahun, dan hanya 11 persen yang didaur ulang, sedangkan diindonesia sendiri, dilansir dari CNNIndonesia data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat saat ini jumlah sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan sebanyak 64 persen berakhir di TPA. Berdasarkan data BPS, tingkat perilaku tidak memilah sampah sebelum dibuang masih sangat tinggi yakni 81,16 persen.

Keberhasilan suatu pengelolaan sampah termasuk daur ulang ditentukan Pemilahan Sampah langsung dari sumbernya. Melakukan kegiatan memilah sampah organik dan anorganik merupakan kegiatan yang mudah dan tanpa biaya. Selain itu bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan sendiri dan orang lain.

Dibeberapa negara pemilahan sampah dilakukan dengan beragam jenis, salah satunya Jepang, warga jepang menjadikan kegiatan pemilahan sampah menjadi salah satu budaya kehidupan sehari-hari. Indonesia yang hanya diminta memilah dua jenis sampah saja yaitu smapah organik dan sampah non organik, masih belum mampu menjalankan program ini. Padahal pemerintah di beberapa daerah di Indonesia sudah mulai menjalankan program pemilahan sampah ini salah satunya dengan menyediakan tempat sampah sesuai dengan jenis sampah.

Sampah organik adalah sisa buangan yang berasal dari mahkluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan dan sifatnya mudah membusuk dan mudah terurai. Sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari proses teknologi yang bisa dibilang sangat susah diuraikan jika dibandingkan dengan sampah organik. Sampah-sampah anorganik yang telah dipilah, nantinya akan dibagi kembali sesuai jenisnya untuk didaur ulang.  Untuk sampah organikbisa langsung diolah menjadi pupuk tanaman. Maka dari itu, memilah sampah dapat membuat sampah menjadi barang yang punya nilai. Kebiasaan kita yang menampur sampah organik dan anorganikmembuat sampah tersebut tidak bisa didaur ulang karena nilai dan kualitasnya sudah berkurang.

Jika manusia tidak mulai membiasakan diri untuk memilah sampahnya dan tetap tidak peduli akan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan tanpa melakukan pengelolaan sampah yang baik diperkirakan pada tahun 2020 jumlah sampah akan meningkat menjadi 67,8 juta ton dan 70,8 juta ton pada tahun 2025. Bisa dibayangkan apa jadinya bumi ini nanti yang berubah menjadi daratan dan lautan sampah. Jika sudah demikian, penyesalan tiada guna.

(Info dari berbagai sumber : CNNIndonesia, Kompasiana, Eco-Bali)